Selasa, 12 Juni 2012

Pengaruh Revolusi Prancis, Revolusi Amerika dan Revolusi Rusia Terhadap Perkembangan Pergerakan Revolusi Indonesia


Pengaruh Revolusi Prancis, Revolusi Amerika dan Revolusi Rusia Terhadap Perkembangan Pergerakan Revolusi Indonesia

1. Revolusi Prancis (1789-1891)
Revolusi Prancis memiliki arti penting dalam sejarah dunia. Pertama, Revolusi Prancis terjadi perubahan yang fundamental dalam pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia. Kedua, melalui Revolusi Prancis, bangsa di dunia disadarkan oleh penting ditegakkannya pemerintahan yang demokratis yang mengakui hak-hak rakyat (warga Negara) dalam mengontrol jalannya pemerintahan dan membatasi kekuasaan pemerintah. Ketiga, melalui Revolusi Prancis bangsa-bangsa di dunia disadarkan oleh kenyataan bahwa selama berabad-abad rakyat di seluruh dunia berada di bawah kekuasaan yang absolute, baik raja, tuan tanah, maupun golongan yang mengatasnamakan kekuasaannya pada kekuatan agama (abad pertengahan)
a. Kondisi Eropa Sebelum Revolusi
Kehidupan politik di Eropa diliputi absolutisme disebabkan oleh berkembangnya ajaran Machiavelli pada abad ke-17 di Eropa. Nicolo Machiavelli dalam bukunya yang berjudul I’l Principe atau The Prince (Sang Raja) mengatakan bahwa kekuasaan raja berlaku absolute atau mutlak. Kekuasaan raja tidak terbentuk atas kehendak rakyat, tetapi berdasarkan kehendak dan kemauan raja sendiri. Sebelum meletusnya Revolusi Prancis, semua raja-raja di Eropa menjalankan pemerintahannya secara absolute. Artinya, semua kekuasaan berada di tangan raja dan keluarganya. Raja Prancis, Inggris Rusia, Prusia dan Austria menjalankan pemerintahannya secara mutlak.

b. Kondisi Prancis Menjelang Revolusi
Diterapkannya sistem absolitisme oleh penguasa Prancis adalah:

1) Kekuasaan Absolut Prancis
Kekuasaan absolut di Prancis mulai dijalankan oleh Louis XVIII (1610-1643) yang dibantu Perdana Menteri Rhicellieu (1642-1643). Dalam perkembangan berikutnya, absolutisme di Prancis dilanjutkan oleh Perdana Menteri Mazarin (1643-1661). Dampak absolutisme di bidang ekonomi di Prancis, berkembang merkantilisme yang dikembangkan oleh Colbert (1662-1683).
            Puncak kekuasaan absolutisme di Prancis terjadi pada masa Louis XIV (1643-1715). Kekuasaan tidak berdasarkan pada undang-undang, anggaran kenegaraan tidak disusun secara jelas, tidak adanya kepastian hukum dewan legislatif, dan kekuasaan dijalankan tanpa batas. Satu hal yang paling menonjol dari sifat absolutisme Louis XIV adalah ucapannya yang terkenal L’etat c’est moi (negara adalah saya). Ia menganggap dirinya sebagai jelmaan Tuhan yang berkuasa di muka bumi (des troit Devin). Istana Versailles tempat kediaman Louis XIV dianggap sebagai Istana Sang Surya (le roi soleil).

2) Munculnya Tokoh-tokoh Pemikir
            Kekuasaan absolut di Eropa pada abad ke-17 dan 18 menyebabkan munculnya gerakan-gerakan yang menentang kedudukan raja. Gerakan ini dipelopori oleh kaum masyarakat kota

a)  Jhon Locke (1632-1704) adalah tokoh pemikir yang berasal dari Inggris. Ia memperkenalkan sistem monarki parlementer. Sebuah negara berbentuk kerajaan (monarki) yang dibatasi oleh suatu undang-undang (konstitusi)

b) Montesquieu (1689-1755) seorang ahli hukum dari Prancis. Ia berpendapat bahwa sebuah negara harus dibagi dalam 3 kekuasaan, yakni kekuasaan legislatif (pembuat undang-undang), kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang), dan kekuasaan yudikatif (kekuasaan yang mengawasi pelaksanaan udang-undang).

c)  Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seperti Montesquieu ia berasal dari Prancis. Gagasan-gagasannya tertuang dalam sebuah buku yang berjudul “Du Contract Social” (Perjanjian Masyarakat), semua manusia sejak lahir adalah sama dan merdeka.

d) Voltaire (1694-1778), ia melakukan kritikan terhadap kekuasaan absolut raja. Sistem absolutisme pun dikritik oleh Diderot dan D’alambert dalam artikel mereka tentang Liberte (kebebasan) dan Representant (perwakilan).

3) Keadaan Masyarakat Prancis Sebelum Revolusi
                Struktur masyarakat Prancis sebelum terjadinya Revolusi pada   14 Juli 1789 terdiri atas tiga golongan, yaitu golongan raja dan bangsawan, para pendeta, dan kaum borjuis serta rakyat jelata.

4) Masalah Keuangan dan Lemahnya Kewibawaan Raja Prancis
                  Kebangkrutan Prancis disebabkan jumlah utang pemerintah serta defisit anggaran yang semakin meningkat. Bantuan Prancis, yang menggunakan uang pinjaman terhadap golongan kolonis, sangat membebani keuangan Prancis. Akibatnya, utang Prancis menjadi meningkat dua kali lipat.
                  Pads 1780, setengah dari anggaran tahunan Prancis digunakan untuk membayar cicilan bungan pinjaman yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.

5)  Meletusnya Revolusi
                  Untuk mengatasi krisis keuangan, Raja Louis XVI berusaha mengenakan pajak kepada golongan kaya. Usaha ini gagal karena mendapat tantangan dari golongan bangsawan.
                  Louis XVI mengusir semua anggota golongan ketiga dari tempat sidang pertemuan. Golongan ketiga akhirnya memilih tempat bersidang di lapangan tenis tertutup. Mereka membentuk Dewan Nasional atau National Assembly pada Mei 1789.
                  Peristiwa pembentukan Dewan Nasional ini dianggap sebagai awal dimulainya Revolusi Prancis. Melalui Dewan Nasional, golongan menengah, buruh, petani serta golongan gereja yang miskin dan bangsawan yang berpandangan maju bersumpah tidak akan membubarkan diri sampai terbentuknya Konstitusi Prancis yang baru. Mereka tidak bermaksud menumbangkan kekuasaan Louis XVI, kecuali menunut adanya peran politik yang besar dalam pemerintahan serta diakuinya hak-hak mereka. Dukungan yang luas dari petani dan pekerja perkotaan yang menderita akibat depresi ekonomi.
                  Raja Louis XVI mulai kehilangan kontrol. Pada 1789, dia mengerahkan 20.000 pasukannya untuk membubarkan Dewan Nasional di Paris. Rakyat yang marah mencari senjata dan mempertahankan Dewan Nasional. Segera di Paris terjadi tindakan kekerasan antara pasukan raja dan penduduk yang bersimpati dengan Dewan Nasional. Tindakan kekerasan itu mencapai puncaknya di Bastille.
                  Pada 14 Juli 1789, rakyat yang marah menyerbu penjara Bastille. Mereka membebaskan semua tahanan politik yang seluruhnya berjumlah 7 orang, membunuh penjaga penjara dan para pejabatnya serta merebut semua amunisi yang tersimpan di penjara tersebut.
                  Peristiwa yang paling dramatis dalam sejarah Revolusi Prancis terjadi pada 4 Agustus 1789. Sebagian besar golongan gereja dan bangsawan bergabung dengan Dewan Nasional, menghapuskan kewajiban-kewajiban feodal dan melepaskan hak-hak istimewanya di bidang politik dan perpajakan. Peristiwa tersebut merupakan perubahan yang paling revolusioner, sebab sistem feodalisme Prancis dapat dihancurkan dalam satu hari saja.
                  Deklarasi mengenai hak-hak asasi manusia dan warga negara dikeluarkan pada 26 Agustus 1789. deklarasi tersebut didasarkan pemikiran-pemikiran zaman pencerahan mengenai hukum-hukum alam. Melalui deklarasi tersebut warga negara Prancis memiliki hak merdeka (liberty), hak milik (proverty), hak keamanan (security), dan hak perlindungan dari tindakan kekerasan (resistance to oppresion). Dewan Nasional juga menyatakan bahwa semua orang memiliki persamaan (equality) di depan hukum, memiliki kebebasan berbicara, memilih agama dan dijaminnya kebebasan pers.
                  Dewan Legislatif membubarkan pemerintahan monarki pada Agustus 1792 dan menangkap seluruh anggota keluarga raja. Revolusi semakin radikal sehingga berakibat dieksekusinya sejumlah 2000 orang golongan royalis, yaitu golongan yang setia pada Raja Louis XVI, pada September 1792.
                  Pemerintahan Direktory dipimpin oleh ”warga negara terbaik” berjumlah lima orang yang disebut direktur. Mereka dipilih oleh parlemen. Pemerintahan baru tidak bersifat demokratis sebab hak pilih suara bagi semua pria dewasa yang ditetapkan pada tahun 1793 dihapuskan. Hak pilih hanya diberikan pada pria dewasa yang membayar pajak. Akhirnya rakyat Prancis mempercayakan kepemimpinannya pada seorang tokoh patrotik penyelamat Prancis yang bernama Napoleon Bonaparte pada 1799, sekaligus mengakhiri pemerintahan Direktory.

6)  Pemerintahan Napoleon Bonaparte
                  Pada 1797, Prancis mengalahkan Austria di kawasan Italia Utara sehingga menjadikannya pahlawan perang. Rakyat Prancis lebih kecewa dengan pemerintah Direktory yang selama empat tahun memerintah ditandai dengan penyelewengan-penyelewengan dan ketidakstabilan politik. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Napoleon dengan menumbangkan pemerintahan Direktory. Dengan cara menyuarakan kaidah-kaidah pemerintahan demokratis, Napoleon berhasil melegitimasikan pengangkatan dirinya sebagai penguasa baru Prancis melalui referendum dengan hasil suara 3 juta setuju dan hanya 1500 yang menentang.
                  Dalam menjalankan pemerintahannya, Napoleon bersifat diktator, semua kelompok oposisi disingkirkannya. Sebagai Konsul Pertama (First consul), dia memperoleh semua kekuasaan politik. Pada 1804, popularitas Napoleon memuncak, mayoritas rakyat Prancis melalui referendum menyetujui pengangkatannya sebagai Kaisar Prancis untuk memimpin Imperium Prancis. Dengan demikian, Republik Prancis yang telah berdiri selama 12 tahun, berubah menjadi sebuah imperium. Napoleon Bonaparte naik tahta sebagai Kaisar Napoleon I.
                  Selama 15 tahun menjalankan pemerintahan (lima tahun sebagai Konsul dan 10 tahun sebagai Kaisar), Napoleon mengadakan reformasi sehingga pemerintahan menjadi lebih efisien. Semua hak-hak istimewa yang dulu dimiliki golongan tertentu dihapuskannya. Sistem perpajakan diperbarui sehingga memberikan keadilan kepada semua golongan. Pengangkatan jabatan militer didasarkan pada prestasi di lapangan. Hubungan dengan Paus diperbarui, gereja mendapat perlindungan hukum serta kebebasan beragama dijamin. Di bidang hukum, Napoleon mengeluarkan Code Napoleon yang didasarkan atas prinsip bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama dimuka hukum.
                  Dalam usahanya untuk menyatukan Eropa dibawah pimpinan Prancis, Napoleon mengadakan peperangan dengan negara-negara lain. Peperangan tersebut dilihat dari sisi negara-negara Eropa disebut sebagai Perang Koalisi (Coallition Wars) atau Perang Gabungan. Adapun dilihat dari sisi Prancis, disebut sebagai Perang Napoleon (Napoleonic Wars), perang ini berlangsung dari 1762 hingga 1815.
                  Imperium Prancis berakhir pada 1813 setelah pasukan Napoleon mengalami kekalahan di kota Leizpig dari pasukan koalisi negara Swedia, Inggris, Spanyol, Prusia dan Austria. Napoleon menyerah, ditangkap dan segera dibuang ke pulau Elba, di pantai Italia pada 1814.
                  Napoleon sempat melarikan diri dan segera memimpin kembali pasukan Prancis melawan tentara koalisi. Setelah berhasil memimpin pasukan Prancis melawan koalisi. Setelah berhasil memimpin pasukan Prancis selama 100 hari, akhirnya Napoleon mengalami kekalahan dalam pertempuran di Waterloo pada 1815. Dia dibuang ke pulau terpencil St. Helena di Pasifik Selatan sampai meninggalnya pada 1821.
                  Kondisi Eropa setelah perang koalisi perang koalisi ditentukan kembali berdasarkan peta politiknya melalui Kongres Wina di Australia pada tahun 1815. berdasarkan konferensi tersebut, wilayah Perancis kembali pada kondisi sebelumnya Kaisar Napoleon Bonaparte.

C. Dampak Revolusi Perancis terhadap pergerakan Nasionalisme Indonesia.
            evolusi Perancis berdampak pada kehidupan sosial di Indonesia. Hal itu mengakibatkan dengan munculnya golongan terpelajara akibat adanya politik etis. Golongan terpelajar inilah yang peduli akan nasib bangsanya. Selain itu Revolusi Perancis juga berdampak pada datangnya hak asasi manusia.
            Mereka ingin menyelamatkan bangsanya dari kebodohan dan ketebelakangan akibat muncunya nasionalisme demokrasi dan munculnya hak asasi manusia.
            Mereke ingin menyelematkan bangsanya dari kebodohan dan keterbelakangan akibat penjajahan. Oleh karena itu, mereka mendirikan organisasi-organisasi kebangsaan yang bertujuan memajukan bangsanya.

2.      Revolusi Amerika
A.  Terjadinya Revolusi Amerika
            Revolusi ameriak terjadi pada tahun 1775. yang dilatar belakangi oleh keinginan rakyat untuk melepaskan diri dari penetrasi pemerintah kolonial Inggris yang semakin kuat pajak yang ditanggung oleh rakyat semakin kuat sehingga menambah beban rakyat. Rakyat juga dipaksa untuk menjual hasil bumi hanya kepada Pemerintah Kolonial Inggris dan diharuskan untuk membeli produk dari pemerintah Inggris keadaan tersebut mendorong untuk melakukan pergerakan menghilangkan penetrasi Inggirs.
            Revolusi Amerika terjadi pada 1775 yang diawali oleh The Boston Tea Party ketika kapal Inggris berlabuh dipelabuhan Boston. Kapal tersebut memuat teh untuk Amerika. Pihak Inggir memaksa untuk membayar pajak atas muatan teh tersebut karena tidak diturunkan dari kapal. Melihat keadaan tersebut rakyat Amerika berencana untuk menaiki kapal tersebut dengan menyamar dan melempari muatn teh tersebut yang mengakibatkan rakyat Amerika yang melakukan kegiatan tersebut mendapat hukuman. Tindakan tersebut yang diwakili oleh George Washington. Peristiwa itu mengakibatkan meletusnya revolusi di Boston dan Lexington yang kemudian diikuti oleh beberapa negara bagian Amerika. Perangpun tidak dapat dihindarkan Rakyat Amerika ingin bebas dari tekanan yang dilakukan oleh Inggris.
            Akhirnya pada 4 Juli 1776 Kemerderkaan Amerika diproklamasikan oleh Thomas Jefferson dalam Kongres di Negara bagian Philadelphia. Kongres tersebut didukung oleh 13 Negara bagian dalam Naskah proklamasi tersebut dikenal dengan nama Bill Of Rights. Untuk membabaskan masalah konfederasi (Articles Of Confederation) maka diadakan kongres pada 1777 dan terbentuklah Negara Amerika Serikat atau The United State Of Amerika (USA). Revolusi Amerika tekah mendorong bangsa indonesia, khususnya kaum pergerakan nasionalisme indonesia untuk melawan penjajah. Adanya pengakuan terhadap hak asasi manusia telah mendorong kaum pergerakan nasionalisme memperjuangkan hak rakyat Indonesia untuk melepas dari kebodohan dan keterbelakangan akibat penjajahan.

3.      Revolusi Rusia

a.      Terjadi Revolusim Rusia
Revolusi Rusia terjadi pada Februari 1917 Oktober 1917. Revolusi Rusia terjadi karena kekalahan Rusia terhadap Perang Dunia Ke I. Kekalahan itu berdampak terhadap perekonomian Rusia. Perekonomian Rusia terjadi karena kekalahan tersebut menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap Tsar Nicolas II. Gerakan ini dilatarbelakangi oleh perubahan Agraria yang menyebabkan pada petani kehilangan tanah miliknya.
Berbagai kejadian tersebut pada februari 1917
            
Untuk mengatasi keadaan tersebut, tentara diperintahkan menembaki para demonstran dan para buruh. Akan tetapi, perintah tidak diindahkan oleh para tentara. Akibatnya, golongan Kadet, Menshevik, dari Bolshevik memaksa Tsar Nicholas II untuk turun takhta. Setelah  Tsar Nicholas II turun takhta, Kadet menggantikan kepemimpinan tetapi tuntutan rakyat tidak dikabulkan karena golongan ini masih ragu untuk mengadakan perubahan karena situasi yang tidak menentu.
Keadaan  tersebut dimanfaatkan golongan Menshevik yang dipimpin Kerensky melakukan kudeta. Kudeta tersebut akhimya berhasil dan  golongan Menshevik dapat menggulingkan golongan Kadet. Karensky mengumumkan berdirinya Republik Rusia kepada seluruh rakyat. Dalam masa pemerintahannya juga, ia memimpin serangan terhadap Jerman. Serangan tersebut bertujuan mengembalikan kehormatan Rusia di mata dunia. Akan tetapi, serangan tersebut mengalami kegagalan sehingga hal itu menyebabkan rakyat tidak percaya lagi pada pemerintahan Menchevik  yang dipimpin Korensky.
Situasi tersebut dimanfaatkan oleh golongan Bolshevik. Golongan Bolshevik yang dimotori oleh Lenin dan Leon Trotsky menyebarkan propaganda kepada rakyat. Mereka membentuk tentara sendiri yang  disebut dengan Tentara Merah. Propaganda tersebut disambut oleh rakyat sehingga golongan Bolshevik melakukan revolusi besar-besaran. Akhirnya, pada 25 Oktober 1917,  golongan Bolshevik dapat menggulingkan pemerintah Menshevik.
Golongan ini juga melakukan perundingan perdamaian dengan Jerman pada 1918 yang dikenal dengan nama Perdamaian Brest Litovsky.

b. Dampak Revolusi Rusia terhadap Pergerakan Nasional
Revolusi Rusia berdampak terhadap pergerakan nasional Indonesia.Revolusi tersebut menimbulakan   munculnya paham marxisme. Paham komunisme yang berkembang  di  Rusia, menyebabkan timbulnya komunisme di Indonesia. Dengan demikian, muncullah tokoh-tokoh komunis yang akhimya ingin mendirikan negara komunis di Indonesia.

Perbedaan pengaruh revolusi amerika, rusia , perancis terhadap perkembangan politik Indonesia

Revolusi rusia.
Revolusi Rusia berdampak terhadap pergerakan nasional Indonesia.Revolusi tersebut menimbulakan   munculnya paham marxisme. Paham komunisme yang berkembang  di  Rusia, menyebabkan timbulnya komunisme di Indonesia. Dengan demikian, muncullah tokoh-tokoh komunis yang akhimya ingin mendirikan negara komunis di Indonesia.
Revolusi amerika
Revolusi Amerika tekah mendorong bangsa indonesia, khususnya kaum pergerakan nasionalisme indonesia untuk melawan penjajah. Adanya pengakuan terhadap hak asasi manusia telah mendorong kaum pergerakan nasionalisme memperjuangkan hak rakyat Indonesia untuk melepas dari kebodohan dan keterbelakangan akibat penjajahan.

Revolusi Perancis
            revolusi Perancis berdampak pada kehidupan sosial di Indonesia. Hal itu mengakibatkan dengan munculnya golongan terpelajara akibat adanya politik etis. Golongan terpelajar inilah yang peduli akan nasib bangsanya. Selain itu Revolusi Perancis juga berdampak pada datangnya hak asasi manusia.
            Mereka ingin menyelamatkan bangsanya dari kebodohan dan ketebelakangan akibat muncunya nasionalisme demokrasi dan munculnya hak asasi manusia.
            Mereke ingin menyelematkan bangsanya dari kebodohan dan keterbelakangan akibat penjajahan. Oleh karena itu, mereka mendirikan organisasi-organisasi kebangsaan yang bertujuan memajukan bangsanya.



Ideologi-ideologi yang Berkembang pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia Sebagai Pengaruh Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Rusia

Liberalisme, ideologi ini muncul karena adanya dominasi aristokrasi dan patron di kalangan masyarakat Eropa abad pertengahan. Ideologi ini muncul untuk membatasi kekuasaan bangsawan. Ideologi liberal ini yakin bahwa setiap individu dapat mengembangkan bakat dan pemikiran mereka sendiri, yang penting setiap individu tersebut juga mampu bertanggung jawab atas tindakannya. Tujuannya adalah untuk mendorong terciptanya masyarakat yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. Ideologi inilah yang kemudian melahirkan demokrasi. Oleh karena itu, pada ideologi ini, pemerintah mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Semetara itu masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh.

Komunisme, ideologi ini banyak menganut ajaran Marxisme Leninisme. Seluruh hak milik dihapuskan dan dijadikan hak milik negara. Menurut ideologi ini, agama adalah candu. Negara yang masih menganut ideologi ini adalah RRC.

Sosialisme, ideologi ini merupaka reaksi terhadap revolusi industri. Ideologi ini diharapkan dapat melahirkan masyarakat yang berpikir jernih dan memiliki kejelasan argumen. Hak milik pribadi dihapuskan dan dijadikan hak milik bersama atas sarana produksi. Paham ini banyak dianut oleh negara-negara Eropa Barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar